Selasa, 28 Februari 2012

Sepenggal Hikmah Menarik Dibalik Bahasa Arab

Teringat dengan ucapan salah seorang teman pada saat penutupan dauroh Bahasa Arab di Gresik, kurang lebih begini katanya : “ Ustaz-ustaz pengajar Bahasa Arab itu pada bohong sama kita ya. Katanya pas di awal-awal dauroh bahasa Arab itu gampang, nyatanya pas sudah mulai belajar barulah terasa kalau Bahasa Arab itu susah..” Hehe, iya juga sih, tapi pastinya mereka ngomong seperti itu ada baiknya juga kok, mungkin biar kita nggak down duluan sebelum mulai belajar.
  Ya, Bahasa Arab memang terasa sulit bagi mereka yang baru mengenalnya. Namun bagi mereka yang telah melihat, atau paling tidak telah mengetahui betapa besar faidah yang bisa didapat ketika ia mampu memahami bahasa Arab, maka kesulitan tersebut terasa amat kecil dibandingkan manfaat/keuntungan yang akan didapat. Keuntungan yang jauh lebih menggiurkan dibanding prediksi income cashflow dari seorang investment consultant yang menghitung benefit-cost ratio dari sebuah proyek bisnis yang paling potensial.
  Mengenai hal ini, cukuplah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sebagai cambuk bagi kita:
“Bahasa Arab itu sendiri termasuk bagian dari agama, dan hukum untuk mempelajarinya adalah wajib, karena memahami al-Qur’an dan as-Sunnah hukumnya wajib, dan seseorang tidak  mungkin bisa memahami keduanya kecuali dengan Bahasa Arab, padahal suatu kewajiban apabila tidak mungkin terlaksana kecuali dengan melakukan sesuatu yang lain, maka sesuatu yang lain itu  menjadi wajib.” (Iqtidho’ Shirathil Mustaqim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
  Intinya, kalo kita bisa menjaga niat dan motivasi, serta istiqomah dalam belajar, insya Allah kemudahan dari Allah bakal didapat. Saya ingin berbagi beberapa contoh faidah menarik yang bisa kita dapati dengan belajar Bahasa Arab. Faidah ini saya dapat sewaktu mengikuti pelajaran singkat tentang Nahwu dari beberapa orang Ustaz di Gresik. Semoga bisa bermanfaat dalam menambah semangat kita mempelajari bahasa arab.
  • Penggunaan huruf zhorof في (Fii)
  Dalam ilmu nahwu, salah satu penggunaan في sebagai zhorof makan (kata yang menerangkan tempat) adalah untuk menunjukkan sesuatu yang dilingkupi oleh sesuatu yang lain secara menyeluruh. Sebagai contoh, bila kita katakan,    علي في الفصل, maka akan bermakna Ali berada di dalam Kelas, dan ia benar-benar dilingkupi oleh ruang kelas tersebut. Contoh lainnya, القلم في الحقيبت, bermakna pulpen tersebut diletakkan di dalam tas (ada di dalam tas tersebut), bukan di atas, di bawah, atau di sampingnya.
  Berdasar kaidah ini, apabila kita mencermati firman Allah dalam surat Al-Ashr:
انّ الا نسان لفي خسرٍ
  Makna dari في pada ayat tersebut, menunjukkan bahwa manusia benar-benar mengalami kerugian. Kerugian tersebut bukanlah kerugian biasa, tapi kerugian yang melingkupi dan menyelimuti seluruh kehidupan mereka. Kerugian pada ilmu yang mereka miliki karena tidak pernah diamalkan, Kerugian pada waktu mereka karena digunakan untuk hal yang sia-sia, kerugian pada harta mereka yang tidak diinfakkan di jalan Allah, kerugian pada anak-anak dan istri mereka karena hanya melalaikan mereka dari Allah, dan masih terlalu banyak kerugian lain sehingga tidak akan cukup disebut di sini. Maka merugilah mereka, kecuali siapa diantara mereka yang beriman, beramal sholih, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.
  • Penggunaan  Huruf ‘Athof ثم (Tsumma)
ثم adalah huruf athof yang berfungsi menunjukkan kejadian dengan urutan selang waktu, yang artinya “kemudian”. Contohnya, misalkan Ahmad mati karena tertimpa penyakit menular, kemudian selang beberapa hari ‘Ali mati karena penyakit yang ditularkan Ahmad, maka dapat dikatakan              مات احمد ثم علي   (Ahmad telah mati, kemudian ‘Ali).
*afwan ya bagi yang namanya Ali sama Ahmad, hehe  :shakehand
Nah, sekarang kalau kita perhatikan keyakinan sebagian orang-orang yang  menyimpang dalam memahami sifat istiwa’ Allah dalam firman-Nya:
هوالذي خلق السماوات ولارض في ستت آيّام ثم استوى عل العرش…
 “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy..” (QS. Al-Hadid: 57)
  Mereka tidak menafsirkan kata استوى dengan ‘bersemayam’ tetapi dengan استولى  yang bermakna menguasai. Tetapi, apabila kita kembali ke kaidah penggunaan ثم di atas, yakni bahwa ثم digunakan untuk menunjukkan kejadian dengan selang waktu, maka perkataan mereka akan terbantahkan. Bila kita tafsirkan استوى dengan استولى  maka maknanya menjadi “kemudian Dia berkuasa di atas ‘Arsy..”. Nah, hal ini berkonsekuensi bahwa ada yang berkuasa sebelum Allah, dan tentu saja ini tidaklah mungkin bagi Allah. Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an dengan Bahasa Arab.
  • Penggunaan huruf jar ب (Ba)
Lafazh Basmalah yang sudah berulangkali kita dengar dan ucapkan:
بسم الله الرحمان الرحيم
  Disalahtafsirkan oleh orang-orang yang memiliki paham wihdatul wujud sebagai dalil bagi mereka, bahwasanya Allah menyatu dengan hamba-Nya di manapun hamba tersebut berada. Tafsiran mereka, ب yang ada dalam lafazh basmalah adalah bermakna للملابسة  ‘kebersamaan’. Jadi menurut mereka, jika seseorang mengatakan:
بسم الله اكلت
  Maka maknanya: Bersama Nama Allah aku makan. Padahal para ulama Ahlussunnah (Salah satunya Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir) menafsirkan bahwa makna ب di situ bukanlah kebersamaan, tapi bermakna ب ل  الاستعانة  (ba bermakna memohon pertolongan). Sebagian ulama telah menjelaskan bahwasanya lafazh basmalah digunakan untuk menunjukkan bahwa manusia dapat beramal sholih karena pertolongan dari Allah, oleh karenanya Allah memerintahkan kita membacanya ketika hendak memulai setiap perbuatan baik. Ini menjadi hikmah bagi kita, yakni jika ingin belajar bahasa Arab jangan sampai lalai dari mempelajari aqidah islam yang benar. Karena banyak diantara umat islam yang tersesat karena mereka mempelajari bahasa Arab secara dalam tanpa dibarengi akidah yang benar, seperti orang-orang Mu’tazilah yang menafsirkan agama dengan modal akal dan kedalaman ilmu bahasa arab semata.
  • Penggunaan huruf jar ك (Kaaf)
Huruf ك merupakan salah satu Huruf jar yang fungsinya memajrurkan isim di belakangnya. Huruf jar ini sering digunakan dalam Al-Qur’an, seperti dalam surat Al-Furqon: 44
..ان هم إلا كا الانعام…
Contoh penggunaannya dalam kalimat: وجهه ك القمر (wajahnya seperti rembulan). Dalam kalimat ini, ك bermakna لتشبيه (li tasybiih) ‘seperti/menyerupai’. Contoh ayat lain yang terdapat huruf jar ك adalah Surat Asy-Syura ayat 11:
ليس كمثله شيء وهو السميع البصير
Dalam ayat tersebut terkandung faidah tauhid Asma Wa Sifat yang sangat besar. Untuk mengetahuinya, Pertama kita dapat mengartikan kalimat ليس كمثله شيء   per kata.
ليس    : Tidak ada
ك        : Seperti
مثله    : Semisal Allah
شيء  : Sesuatu pun
شيء di situ berfungsi sebagai taukid ‘penekanan’. Maka dalam ayat ini kita jumpai taukid yang berganda. Taukid pertama pada lafazh كمثله , taukid kedua pada tambahan شيء . Singkatnya bila kita artikan menjadi: “ Tidak ada sesuatu pun yang seperti semisal Allah”. Berarti, apabila yang seperti yang semisal dengan Allah saja tidak ada, maka yang semisal dengan Allah lebih tidak ada lagi, bukankah begitu? Mungkin dalam bahasa Indonesia terdengar agak aneh, tapi itulah indahnya bahasa arab. Kalau kita jumpai dalam terjemahan mungkin hanya tertulis “ Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)”, tapi dengan mengetahui kandungan bahasa arabnya ternyata maknanya lebih dalam dari itu.
Maha Suci Allah dari apa yang orang-orang musyrik persekutukan.
  Inilah segelintir faidah yang dapat saya –yang masih sangat pemula– sampaikan di sini. Tentunya masih banyak sekali faidah-faidah lain yang akan kita dapatkan ketika mempelajari bahasa arab. Apabila terdapat kesalahan mohon diri ini dikoreksi dan diberi nasihat. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman.
Penulis: akh Satrio Wicaksono
Sumber: Mukhtarot Qowa’idil Lughotil ‘Arobiyyah, Menyelami Samudera Basmalah, Beberapa Faidah dari Ustadz Zainuddin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar